Namaku John (bukan nama asli), aku adalah pria keturunan Jawa-Belanda-Tionghoa. Aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga besar yang sangat moderat menurutku. Berbagai budaya, ras & agama ada dalam keluarga besarku. Aku pun aktif di lingkungan sosial yang membuat aku bergaul erat dengan berbagai orang dari berbagai suku, ras & agama.
Sejak di bangku kuliah aku mulai tertarik dengan wanita Tionghoa karena menurutku mereka itu cantik, imut dan lembut. Namun saat itu aku tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku karena ada perasaan minder dan takut ditolak.
Namun dimulai dari sekitar tahun 2015 di sebuah kantor di kawasan Kelapa Gading aku dipertemukan dengan wanita Tionghoa sebut saja Aling. Aku dan Aling menjalin hubungan selama 1 tahun lebih hingga akhirnya dia meninggalkanku hanya dengan pesan bahwa orangtuanya marah besar ketika tahu dia menjalin hubungam dengan aku yg bukan cowok Tionghoa murni serta bukan dari keluarga berada.
Hancur hatiku saat itu?ya..sangat hancur..karena selama kami berhubungan, aku rela dijadikan yang kedua dan disuruh menunggu olehnya jika aku memang benar cinta kepadanya.
Saat kehancuran itu, datanglah sosok wanita Tionghoa sebut saja Yen2. Yen2 adalah wanita Tionghoa asli Pontianak, kami berhubungan LDR selama kurang lebih 1 tahun. Hubungan kami terasa indah dan menantang karena LDR bukanlah hal yang mudah. Semula aku menganggap dia adalah jodoh yang diberikan Tuhan sebagai pengganti Aling. Namun bak disambar petir di siang bolong, tepat di malam Anniversary kami, Yen2 pun memutuskan hubungan denganku dengan alasan ketidaksetujuan pihak keluarganya dan seribu alasan yang lainnya yg notabenenya sudah kami bicarakan di awal dan kami perjuangkan dengan ikrar serta tekad kami.
Hatiku hancur kembali, harapan dan impianku bersamanya sekejap sirna. Ternyata kudapati dia telah menjalin hubungan dengan pria lain di tempat kelahirannya yang merupakan teman lamanya dia semasa sekolah. Aku merasa dipermainkan olehnya hingga aku sangat marah, meski amarahku tidak sebesar cintaku kepadanya.
Di tengah kegalauan aku, datanglah kembali sosok wanita lembut, sebut saja Kin2. Kin2 adalah wanita Tionghoa pecinta kopi dan film, hobinya mirip sekali denganku, masa lalunya dia pun mirip denganku, dia sering diselingkuhi dengan pacarnya yang keturunan Tionghoa juga.
Singkat cerita, dari seringnya kami curhat dan mempunyai beberapa kesamaan maka kami menjalin hubungan yang lebih serius.
Kami tahu di awal bahwa hal ini tidaklah mudah karena Kin2 dilahirkan di keluarga yang (maaf) kolot dan mengharuskan dia dekat hanya boleh dengan pria Tionghoa tulen bukan campuran seperti aku.
Namun cinta kami saat itu yang menguatkan dia untuk berani berjuang bahkan bersumpah bahwa dia tidak akan menikah jika tidak dengan aku, begitupun sebaliknya. Sumpah itu murni kami ucapkan tanpa paksaan dari salah satu pihak. Kami menikmati perjuangan demi perjuangan yang kami lalui sampai dia secara tiba2 berucap ingin putus denganku karena tidak sanggup membayangkan bagaimana orangtuanya nanti dicibir oleh keluarga besarnya, bagaiman dia dinilai mendukakan hati orangtuanya karena menjalim hubungan dengan aku, bahkan bagaimana dia nanti akan dibuang dari keluarganya.
Semudah itukah mengucapkan sumpah jika sumpah itu dapat dengan mudah dilupakan??semudah itukah mematahkan perjuangan yang sedang dilakukan hanya demi 1 perbedaan yang tidak dapat membawa kita kepada sang pemilik surga??sehebat itukah Ras hingga ia bisa menghancurkan cinta dan menyakiti hati ketulusan kedua insan??
Saat ini aku lagi berjuang mempertahankannya meski dengan darah dan airmata.
Just share..diangkat dari kisah nyata seorang teman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar