Senin, 11 Januari 2016

Antara Hati dan Budaya

Hening..saat mendengar kau berucap "aku udah ga sayang sama km, aku cuma cinta sama dia..kita akan menikah tahun depan". Sejenak aku terdiam menyaksikan bintang kecilku berkata dengan penuh emosi seakan ingin menegaskan aku tidak bisa bersama dia lagi.

Sebagai seorang pria mungkin kebanyakan akan bersikap "enjoy" saat kita mendapatkan semuanya terlebih mahkota sang wanita apalagi wanita itu bukan kekasihnya. Namun tidak untuk aku, bagiku dia adalah segalanya meskipun aku sadar aku hanya yang kedua untuknya. Cacian, makian bahkan pukulan sering aku dapatkan darinya dan sekarang dia memaksa aku untuk mundur setelah 1 tahun kita melakukan semuanya itu.

Hanya kesedihan dan airmata yang keluar ketika dia seringkali berkata "jangan hubungi aku dulu krn aku sedang bersamanya" bahkan ketika liburan tiba, saat itu juga aku harus bersabar untuk tidak menghubunginya sampai dia menghubungi aku duluan.

Aku seringkali berpikir "apakah aku salah untuk bertanggungjawab dan setia dengan apa uang telah aku lakukan, dengan apa yang telah terjadi antara kami?". Apakah budaya, ras dan kasta telah menggugurkan arti cinta dan membunuh perasaan hati manusia? Apakah Tuhan sejak awal dan pada akhirnya nanti menanyakan  dan memisahkan umatnya berdasarkan budaya/ras/harta/tingkat sosial?

Aku terlalu cinta dengannya namun budaya, ras dan harta memisahkan kita bahkan kau pun rela menutup aibmu dengan kebohongan selamanya dengan calon suami itu. Apakah aku memang tak layak untukmu?lantas kenapa kita melakukan semuanya itu?kenapa kita dipertemukan jika harus terpisah?

Aku akan setia menunggumu, aku terlahir bukan sepertinya yang dibalut dengan  kemewahan, aku mungkin tak dapat selalu memberikan kebahagiaan dan kado istimewa..Tapi aku akan bertanggungjawab terhadap kamu seutuhnya dengan keringat dan darah yang mengalir dari tubuhku.